Fasilitas Simpanglima Dinilai Belum Sesuai Standar RTH


SEMARANG – Penyediaan fasilitas di kawasan Lapangan Pancasila Simpanglima Kota Semarang dinilai belum memenuhi standar minimal pedoman penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan Perkotaan sebagaimana diatur dalam Permen PU Nomor 5 Tahun 2008.

Banyak fasilitas yang selama ini belum dipenuhi oleh Pemkot Semarang untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, mulai dari fasilitas bermain, fasilitas untuk komunitas sampai penyediaan toilet yang memadai. Pengamat Tata Kota Unissula Semarang Jamillah Kautsary mengatakan, Lapangan Simpanglima adalah kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH) aktif, yang mana ada aktivitas di dalamnya.

Fungsinya untuk rekreasi, sosialisasi, dan untuk tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Sebagai RTH kota, sudah semestinya memenuhi standar minimal sesuai dengan Permen PU Nomor 5/2008. Namun kenyataannya Simpanglima masih sangat jauh dari pelayanan RTH kota.

Di sana tidak ada ruangruang untuk komunitas, tempat bermain anak masih sangat minim, kemudian fasilitas toilet juga belum memadai. Menurut Jamillah, keberadaan toilet ini sangat penting mengingat Simpanglima saat ini menjadi ikon Kota Semarang yang menjadi jujukan wisatawan.

Seharusnya toilet harus memadai, sehingga ketika saat ramai kunjungan seperti pada akhir pekan, masyarakat tidak kesulitan mencari fasilitas toilet. “Sudah selayaknya Simpanglima dibenahi dan fasilitasnya disesuaikan dengan standar minimal RTH kota. Dengan begitu, fungsi Simpanglima sebagai RTH kota tidak banyak yang hilang,” ucapnya.

Yang perlu diperhatikan adalah masalah penyeberangan jalan. Lokasi Simpanglima yang berada di tengah kota dengan kondisi jalan yang padat sudah selayaknya pemerintah memberikan fasilitas penyeberangan. Penyeberangan tidak harus berupa jembatan, tapi bisa cukup dengan memasang ramburambu sehingga pengendara kendaraan tidak ugal-ugalan.

“Sekarang ini sering kita lihat pengendara masih enggan memberikan jalan untuk pejalan kaki,” kata Jamillah. Di sisi lain, penataan kawasan Simpanglima sejauh ini belum menunjukkan sebagai ikon Kota Semarang. Penataannya terkesan hanya memperbaiki tanpa ada pembaharuan.

“Simpanglima memang menjadi ikon Kota Semarang, tapi penataannya belum ikonik. Belum ada sesuatu yang bisa menjadikan Simpanglima sebagai tempat yang wajib dikunjungi,” ucapnya. Karena itu, Jamillah menyarankan kepada pemkot agar pembangunan taman kota harus berkarakter dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang bisa untuk menuangkan ide-ide kreatif.

“Jika pembangunan taman berkarakter maka akan bisa menjadi karakter Kota Semarang. Kalau taman yang sekarang ini kan tidak ada karakternya,” katanya. Menurut Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono, dengan masih minimnya fasilitas umum di Simpanglima DPRD mendorong dinas terkait segera melakukan penambahan sehingga masyarakat benar-benar nyaman berada di Simpanglima.

“Sim-panglima ini ikon kota, dan sudah kami sarankan untuk fasilitasnya dipenuhi dan lengkapi,” ucapnya. Simpanglima saat ini sudah tidak boleh digunakan untuk panggung hiburan demi menjaga fungsinya sebagai ruang terbuka publik yang nyaman. Kabid Pertamanan Kota Semarang Mutohar mengakui fasilitas Simpang Lima memang masih minim. Pihaknya mengaku akan terus melakukan pembenahan dan penambahan fasilitas.

andik sismanto

Sumber : http://www.koran-sindo.com/news.php?r=6&n=17&date=2017-01-10

Advertisements

About Jamilla Kautsary

Aku ada karena kamu
This entry was posted in Nongkrong. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s