Banyak Taman Kota Belum Berkarakter


3267_20045_jalan-imam-bonjol_nurchamim-3_rszSEMARANG – Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang sedang gencar dilakukan. Tetapi banyak RTH di Kota Semarang masih asal berdiri, tanpa menyediakan fasilitas standar minimal sesuai dengan pedoman penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan perkotaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 5 Tahun 2008. Sesuai permen tersebut seharusnya di setiap RTH terdapat fasilitas ramah anak untuk bermain, penyediaan toilet, fasilitas komunitas, hingga ketersediaan fasilitas untuk disabilitas.

”Misalnya Lapangan Simpang Lima adalah kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH) aktif. Karena ada aktivitas di dalamnya, baik sebagai fungsi untuk rekreasi, sosialisasi, dan tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Tetapi sejauh ini fasilitas yang diberikan belum memadai,” kata Pengamat Tata Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jamillah Kautsary, kemarin.

Dikatakannya, banyak fasilitas RTH yang selama ini belum dipenuhi oleh Pemkot Semarang untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, mulai fasilitas bermain anak, fasilitas untuk komunitas hingga toilet yang layak. Sebagai RTH, kata dia, semestinya memenuhi standar minimal sesuai dengan permen tersebut.

”Namun pada kenyataannya Lapangan Simpang Lima masih sangat jauh dari pelayanan RTH kota. Di sana tidak ada ruang-ruang untuk komunitas, tempat bermain anak masih sangat minim, kemudian fasilitas toilet juga belum memadai,” ujarnya.

Keberadaan toilet, lanjut dia, sangat penting mengingat Simpang Lima saat ini menjadi persinggahan para wisatawan. ”Seharusnya toilet harus memadai, sehingga ketika ramai kunjungan seperti pada akhir pekan, masyarakat tidak kesulitan mencari fasilitas toilet,” katanya.

Dia berharap, Pemkot Semarang memikirkan kualitas terhadap program-program yang sedang dijalankan. Menurutnya, selayaknya Simpang Lima dibenahi dan fasilitasnya disesuaikan dengan standar minimum RTH kota. ”Sehingga fungsi Simpang Lima sebagai RTH kota tidak banyak yang hilang,” ujarnya.

Termasuk fasilitas penyeberangan jalan. Simpang Lima yang berlokasi di tengah kota dengan kondisi jalan sangat padat, selayaknya memiliki fasilitas penyeberangan. ”Penyeberangan tidak harus berupa jembatan. Tetapi bisa berupa rambu-rambu. Sehingga pengendara kendaran tidak ugal-ugalan,” katanya.

Dikatakan, hak-hak pejalan kaki harus diperhatikan sesuai undang-undang. Penataan kawasan Simpang Lima, sejauh ini belum menunjukkan sebagai ikon kota yang ramah lingkungan. Sebab, penataannya terkesan hanya memperbaiki, tanpa ada pembaharuan. ”Belum ada sesuatu yang bisa menjadikan Simpang Lima sebagai tempat yang wajib dikunjungi,” ujarnya.

Pihaknya menyarankan, pembangunan taman kota harus berkarakter. Disesuaikan dengan kebutuhaan dari masyarakat agar bisa memiliki efek positif untuk menuangkan ide-ide kreatif. ”Maka taman harus bisa mewadahi kepentingan masyarakat, seperti teknologi, seni, sosial termasuk kepentingan lingkungan. Jika pembangunan taman berkarakter, maka akan bisa menjadi karakter Kota Semarang. Kalau taman yang sekarang ini kan tidak ada karakternya,” katanya.

Dikatakan, taman seharusnya bisa berfungsi sebagai tempat menciptakan iklim mikro. Adanya taman, suhu panas berkurang. Termasuk menciptakan estetika kota. Tetapi yang terjadi, pembangunan taman belum sesuai dengan standar kebutuhan masyarakat. ”Simpang Lima seharusnya dibangun untuk jangka panjang,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono, mengatakan, sejauh ini taman-taman di Kota Semarang masih minim fasilitas. Banyak taman yang tidak dirawat dan dibiarkan mangkrak. ”Kami mendorong Pemkot Semarang terutama dinas terkait untuk segera melakukan pembenahan taman,” katanya.

Ia setuju, Simpang Lima saat ini masih banyak fasilitas yang harus dipenuhi sebagai taman masyarakat yang nyaman, aman, dan mendidik. ”Simpang Lima saat ini sudah tidak diperbolehkan untuk digunakan panggung konser. Fungsi sebagai ruang terbuka publik harus dikembalikan. Fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

Sumber : http://radarsemarang.jawapos.com/read/2017/01/10/3267/banyak-taman-kota-belum-berkarakter/1

Advertisements

About Jamilla Kautsary

Aku ada karena kamu
This entry was posted in Nongkrong. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s