Branding Masih Menjadi Problem Kota Semarang


Branding Masih Menjadi Problem Kota Semarang

kendal-segera-bangun-80-titik-shelter-brt-terhubung-ke-kota-semarang_20151230_155225 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hermawan Endra Wijonarko

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Membranding sebuah kota masih menjadii Kota Semarang. Setiap pergantian pemimpin selalu mengubah brandingnya. Padahal branding sangat penting bagi keberlangsungan, kemajuan dan kesejahteraan sebuah kota.

Demikian mengemuka dalam diskusi membangun Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh radio lokal Semarang di Star Hotel, Rabu (27/1).

Dalam acara bertema “Visi Semarang Baru” itu juga hadir beberapa narasumber yakni ekonom Unika Soegijapranata Prof Andreas Lako, Sekretaris Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota Semarang Nany Yuliastuti, pengamat Tata Kota Unissula Jamila Kautsary, dan GM Terminal Petikemas Semarang Erry Akbar.

Menurut Prof Andreas Lako, selama ini Semarang selalu ganti branding ketika perubahan wali kotanya. Ia mencontohkan, mulai dari Semarang Kota Atlas, Semarang Pesona Asia, hingga terakhir Semarang Setara. “Strategi branding ini penting bagi sebuah kota, Pemprov Jateng saja kini juga sudah membranding dengan Jateng Gayeng,” kata Prof Lako.

Mengenai branding saat ini yakni Semarang Setara menurut Prof Lako perlu dikaji kembali. Sebab, makna di balik setara ini biasa bisa berkonotasi negatif. “Kita mau setara apanya, ketidakjelasanya atau apa. Ini salah satu PR baru wali kota Semarang ke depan. Kuncinya, dengarkan aspirasi warga, identifikasi, anggarkan, dan eksekusi,” ujarnya.

Menurut Prof Lako, Wali Kota dalam membangun perlu mengoptimalkan potensi lain. Tidak hanya mengandalkan anggararan dari APBD seperti potensi sosial, ekonomi, lingkungan dan lain sebagainya. “Kota milik bersama, sehingga kita bersama adalah mitra dan punya peran masing-masing. Ada pejabat, masyarakat, pengusaha, akademisi, budayawan, seniman, dan sebagainya. Semua bisa berkontribusi untuk kota ini,” ujar dia.

Sementara itu, pengamat Tata Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Jamila Kautsary menilai, perlu diketahui pemerintah Kota Semarang. Saat ini setidaknya terdapat 60 titik kumuh yang menyebar di seluruh Kota Semarang. Setiap kecamatan terdapat tiga hingga delapan titik kumuh yang kondisinya sangat memprihatinkan dan perlu penanganan yang tepat agar nantinya bisa segera diatasi.

Menurut Jamila, pada 2002 lalu titik kumuh berada di wilayah bagian utara kota Semarang tetapi dari tahun ke tahun titik kumuh justru berada di wilayah pusat kota. “Kami berharap dengan adanya pemimpin baru Kota Semarang ini segala persoalan seperti wilayah kumuh bisa segera diatasi,” ujarnya.

Jamila mengingatkan kepada pemimpin baru Kota Semarang, tidak perlu program yang muluk-muluk. Yang terpenting itu benar-benar dibutuhkan masyarakat dan mudah dilakukan. Menurutnya, jangan sampai terjadi kesenjangan yang lebar di antara masyarakat. “Jika Pak Handy tak hati-hati soal kesenjangan sosial dan ekonomi, ini bisa jadi bom waktu. Untuk itu sebagai wali kota Pak Handy punya power untuk mencegahnya dengan kebijakan-kebijakan yang ada,” imbuhnya.

Senada dengan Jamila, General Manager Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS), Erry Akbar Panggabean mengatakan, untuk membangun kota Semarang ke depan tidak hanya diperlukan peran semua pihak namun juga komitmen. “Harus sama-sama bersinergi untuk mengoptimalkan Semarang sebagai pintu gerbang ekonomi Provinsi Jateng,” kata Erry.

Menurut Erry, TPKS siap berkomitmen membangun provinsi Jawa Tengah. Pelabuhan telah siap dengan berbagai infrastruktur. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang kini telah memiliki 5 container crane. Sebagai bentuk komitmen, TPKS juga telah melakukan modernisasi sarana penunjang bongkar muat barang di pelabuhan. “Bahkan, kini pertumbuhan pelabuhan mencapai 6 persen,” katanya.

Ia menyebutkan, TPKS mulai menjajal alat baru bongkar muat peti kemas bernama automated rubber tyred gantry (ARTG). Alat yang berasal dari Finlandia ini, bahkan menjadi alat bongkar muat peti kemas modern pertama dunia yang baru ada di pelabuhan Indonesia. ARTG kini sudah mulai dipasang di sekitar 5,3 hektare di kawasan TPKS Tanjung Emas.

Rencananya, penggunaan alat ini baru akan aktif pada Juni 2016 mendatang. “Dengan penggunaan alat ini, ditarget mampu menambah 30 persen daya kecepatan bongkar muat peti kemas dari alat biasanya” jelasnya.

Sementara, menurut Nany Yuliastuti selaku sekretaris Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota Semarang, mengatakan, Kota Lumpia saat ini sedang dalam proses menuju visi sustainability city. Beberapa aspek yang harus dipenuhi yakni keadilan, memperhatikan generasi mendatang, dan berwawasan lingkungan. “ Semarang itu unik. Memiliki banyak potensi dan sosok pemimpin menjadi kunci untuk arah pembangunannya,” pungkasnya. (*)

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2016/01/28/branding-masih-menjadi-problem-kota-semarang

 

About Jamilla Kautsary

Aku ada karena kamu
This entry was posted in Nongkrong. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s