Tradisi Populer Tionghoa Dibalik Pecinan Semarang


Tradisi Populer Tionghoa Dibalik Pecinan Semarang

895df824da2896dece0c265283f334d3_thumb

YOGYA (KRjogja.com) – Kawasan Pecinan Semarang dibangun berdasarkan tradisi popular masyarakat Tionghoa, sehingga menyimpan beragam keunikan. Sejarah kedatangan masyarakat etnis Tionghoa secara bertahap dan berasal dari suku yang berbeda memunculkan pengelompokan kegiatan masyarakat berdasar keahlian dan kegiatan warga.

Dalam kawasan tersebut juga terdapat lima bangunan kelenteng di ujung gang dan empat kelenteng besar di sepanjang Kali Semarang. Setiap kelenteng memiliki tingkatan fungsi pelayanan yang berbeda,” ungkap Jamilla Kautsary dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik UGM, Selasa (28/07/2015). Disertasi ‘Pelapisan Ruang Berbasis Spiritual dan Kesejarahan Komunitas di Kawasan Pecinan Semarang’.

Menurut dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik (FT) Universitas Sultan Agung dalam disertasinya menyebutkan, tak hanya itu, tradisi masyarakat masih dipegang teguh sampai saat ini dan menghasilkan fungsi-fungsi ruang yang beragam. Fenomena lain yang muncul adanya beragam simbol perlindungan mulai dari bangunan, gang hingga kawasan.

Menurut promovendus terdapat 10 fakta empiris dari pemaknaan ruang oleh masyarakat. Fakta empiris tersebut berupa ruang sebagai tempat perlindungan, tempat penghidupan, tempat jut bio, tempat mencari hoki, tempat berbagi, tempat laku bakti (Hsiao), tempat satya (Zhong), tempat berkespresi, tempat bersyukur, serta tempat teladan.

Hasil temuan lainnya menunjukkan adanya empat konsep ruang yang lahir dari hasil abstraksi tema-tema empiris konsep ruang yaitu konsep ruang kebertahanan (jian ren), persaudaraan (He Gong), penghormatan dan setia (Xiao Zhong) dan harmoni (Zhong Yong). Masing-masing konsep terdiri dari empat lapisan ruang terkecil merupakan ruang bangunan.

Lapis selanjutnya merupakan skala ruang gang atau jalan lingkungan, lalu skala ruang kawasan dan skala lebih luas sampau luar pecinan. Keempat konsep tersebut terbentuk dari faktor historis dan faktor spiritual masyarakat Pecinan sejak awal berdirinya kawasan hingga saat ini. “Secara umum pelapisan ruang bisa dilihat dalam empat tingkatan skala,” kata Jamilla.

Mulai dari skala bangunan, skala ruang jalan atau lingkungan, skala kawasan, serta skala yang lebih luas hingga ke luar Pecinan. Menurut Jamilla untuk konsep pelapisan ruang kebertahan terhadap musuh dan sha, bentuk perlindungan lapis pertama pagar besi, tralis, dan benda-benda penolak bala. Lapis kedua berupa porta, tugu, benda-benda penolak bala dan kelenteng perlindungan lingkungan.

Lapis selanjutnya berupa bangunan gerbang di pintu utama masuk kawasan dan kelenteng, pos jaga dan kelenteng masyarakat pelindung kawasan. Selanjutnya Kelenteng Besar Yay Kak Sie dan organisasi advokasi. Pelapisan ruang persaudaraan� bentuk persaudaraan pada lapis pertama berupa tradisi makan bersama dan berbagi angpao, serta saling membantu di bidang usaha keluarga.

“Lapis kedua diwujudkan dalam pembangunan kelenteng lingkungan, berbagi ruang dengan pengguna ruang jalan. Lapis ketiga berupa pembangunan kelenteng masyarakat dan kelenteng besar, pembagian sembakao, angpao di hari persudaraan. Lapis empat kerjasama dengan suku komunitas lain di luar kawasan untuk kepentingan bersama,” kata Jamilla yang lulusa doctor di UGM dengan predikat sangat memuaskan. (Asp)

Sumber:KRjogja.com

About Jamilla Kautsary

Aku ada karena kamu
This entry was posted in Nongkrong. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s