KONSEP RUANG PENGHORMATAN DALAM TATA RUANG PECINAN SEMARANG


KONSEP RUANG PENGHORMATAN DALAM TATA RUANG PECINAN SEMARANG

Jamilla K 1, A. Djunaedi, Sudaryono S, Leksono P. Subanu

Abstrak

Kawasan Pecinan Semarang terbentuk oleh dua faktor penting yaitu Politik dan Etnis. Kawasan yang dibentuk oleh Belanda tahun 1741, dengan memindahkan pemukim Tionghoa dari muara Kali Garang Simongan ke Semarang. Sebagai kawasan bentukan politik dan etnis, kawasan Pecinan dalam perkembangannya mengalami banyak tekanan. Keteguhan masyarakat etnis Tionghoa dalam menjalankan pilar-pilar budaya mereka, membuat kawasan ini memiliki karakter yang unik. Di kawasan ini ruang memiliki beragam fungsi dan makna. Keragaman fungsi ruang ini tidak hanya di dalam skala ruang bangunan, tetapi juga jalan dan kawasan. Fungsi ruang di kawasan ini mengalami perubahan dari pagi-malam, dari hari biasa-hari tertentu terutama pada hari-hari khusus perayaan agama. Penelitian Konsep Ruang penghormatan ini memiliki tujuan untuk menemukan makna empiris ruang dan konsep ruang di Pecinan Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan induktif fenomenologi, dengan teknis analisis deskriptif empiris dan object penelitian adalah masyarakat Tionghoa yang lahir dan tinggal di kawasan Pecinan. Area penelitian berada di kawasan inti Pecinan Semarang dengan luas kurang-lebih 25 Ha yang dibatasi oleh Jl. Beteng dan sebelah Utara Gang Lombok, Sebelah Timur dan Selatan dibatasi oleh Kali Semarang. Beberapa predikat ruang berhasil ditemukan dari serangkaian kategorisasi informasi hasil wawancara mendalam dengan informan dan pengamatan terhadap unit-unit informasi. Beberapa predikat ruang sebagai bentuk tema empiris yang ditemukan di Pecinan adalah ruang Xiao (laku bakti), ruang Zhong (Satya), ruang teladan, ruang ekspresi dan ruang bersyukur. Tema empiris ruang ini merupakan gambaran makna ruang di Pecinan. Hasil akhir dari penalaran dan penafsiran tema-tema empiris ruang tersebut adalah Konsep ruang yang berupa ruang penghormatan.

Kata kunci : Ruang, Penghormatan, Pecinan

  1. Pendahuluan

Kawasan Pecinan Semarang merupakan salah satu kawasan yang dihasilkan dari disain tradisi populer masyarakat etnis Tionghoa ini memiliki karakteristik yang dikatakan cukup unik. Kawasan ini walau pun tumbuh di lokasi yang ditetapkan oleh Belanda tahun 1740 dan tahun 1741 (Liem T J, 1931: 4), Pecinan Pecinan Semarang masih berada di lokasi lekuk sungai yang dianggap sebagai sumber dari Chi/Qi. Kawasan ini juga memiliki sistem keruangan yang cukup unik dengan adanya 9 klenteng. Lima (5) bangunan klenteng berada di ujung gang dan sisanya menghadap ke sungai, yang waktu itu merupakan jalur utama transportasi. Kelenteng ini menurut Widodo, Y.(1988) didirikan oleh masyarakat atau marga tertentu yang cukup kaya dan terpandang antara tahun 1746-1905.

Struktur jaringan jalan di kawasan mendekati pola grid. Alasan memilihan aturan pota grid ini belum begitu jelas, tapi jelas telah menunjukkan bahwa sistem grid ortogonal yang ada di Pecinan dapat mengakomodasi nilai dan makna yang berbeda. Pada umumnya sistem grid ortogonal membujur ke arah Utara-Selatan dan Timur-Barat ini dapat ditemukan perbedaan dalam nilai, makna dan berfungsi, sehingga sistem grid dapat dianggap sebagai kerangka di mana kolase elemen fisik dan sosial yang berbeda dapat disatukan. Perbedaan yang bisa dilihat diantaranya adalah perbedaan harga lahan dan perbedaan status sosial (Widodo, J, 1988, 32-33)

Sebagai kawasan perdagangan kawasan Pecinan ini juga memiliki keunikan khusus. Kegiatan perdagangan di kawasan ini yang mengelompok sesuai dengan jenis barang dagangannya. Pedagang emas mengelompok di Gang Warung, pedagang kain di Gang Warung, pedagang sayuran dan kelontong di Gang Baru dan pedagang makanan (rumah makan) ada di Wotgandul Timur (Kautsary, J., 2006).

Tipologi bangunan di kawasan ini, di jalan utama (gang Warung, gang Pinggir, dan Wot Gandul Timur ) di dominasi oleh bangunan berbentuk Ruko (rumah toko). Sementara yang lainnya dalam bentuk hunian dan sebagian sudah berubah menjadi perkantoran modern. Pola-pola bangunan ini mengikuti bentuk tapak dengan ukuran panjang antara 14-40 m dan lebar antara 3-5 m (Widodo, J., 1988: 34).

Masyarakat kawasan Pecinan walaupun masih kuat menjalankan tradisi leluhur. Tradisi ini secara kasat mata dapat dilihat dalam pelaksanaan ritual upacara sembahyangan. Tradisi yang masih dirayakan warga di antaranya adalah perayaan imlek, sembahyangan besar untuk peringatan kedatangan Cheng Hoo (Perayaan Sampo Besar/ Sam Po Tay Djin), perayaan Dewa Obat (Sam Po Kecil/Po Sheng Tay Te), Perayaan Dewi Laut (Thian Sian Seng Bo), Sembahyangan arwah gentayangan/sembahyangan rebutan (King How Ping) dan Sembahyangan Ulang tahun Dewa Bumi.

Tradisi di atas sangat mempengaruhi fungsi, makna dan preferensi masyarakat terhadap ruang-ruang yang ada di kawasan. Ruang-ruang di kawasan Pecinan terutama ruang jalan dan ruang klenteng sering berganti fungsi. Pada hari-hari biasa kelenteng merupakan tempat untuk ibadah, tempat bersosialisasi dan menerima tamu, tempat untuk berbagi dan tempat untuk ngalap berkah. Ruang jalan lebih berfungsi sebagai tempat untuk mendukung kehidupan perekonomian. Sementara pada hari perayaan tertentu jalan berubah salah satunya menjadi tempat penghormatan, begitu juga dengan ruang halaman kelenteng dan ruang utama bangunan yang biasanya digunakan sebagai tempat usaha. Beragamnya fungsi yang diwadahi dalam ruang yang sama, membuat masyarakat memberikan makna yang berbeda pada ruang yang sama di saat yang berbeda.

Dari fenomena yang muncul tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengungkap lebih dalam ruang penghormatan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan fenomenologi dengan teknis analisis deskriptif empiri. Melalui penelitian ini ruang-ruang penghormatan yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan tradisi akan bisa diungkap, dan di jadikan bahan pertimbangan dalam upaya revitalisasi kawasan, agar upaya revitalisasi akan lebih mempunyai keterkaitan emosional dan kultur dengan masyarakat setempat.

  1. Data dan Analisa
    1. Tema Empiris Ruang

Konsep ruang penghormatan terhadap dewa (Satya/Zhong) dalam tema empiris ruang perlindungan di jumpai dalam banyak hal. Posisi klenteng yang dianggap mampu menolak hawa buruk dari jalan yang ada di depannya, karena di pintu klenteng diberikan simbol atau gambar Dewa Pintu. Dewa pintu ini menurut penuturan informan dulunya merupakan jenderal yang gagah berani dan di takuti tidak hanya oleh lawan-lawannya tetapi juga roh jahat yang mengganggu raja. Karena budi baiknya maka di saat ini wujud Dewa Pintu di pasang di pintu klenteng, sebagi bentuk penghormatan terhadapnya, sekaligus sebagai simbol untuk menjaga klenteng.

Demikian juga dengan peletakan meja kongpo/altar dewa/dewa di ruang utama/ruang sembahyangan utama. Masyarakat meyakini peletakan altar dewa yang ditempatkan di tempat yang benar dan dipelihara dengan baik, maka akan didiami oleh makhluk yang baik. Peletakan meja altar di ruang depan ini juga merupakan menciptakan konsep ruang penghormatan manusia pada dewa. Penciptaan konsep ruang penghormatan untuk dewa ini, juga dilakukan dengan memisahkan altar dewa dengan altar leluhur, karena nafasnya sudah berbeda.

Terkait dengan posisi rupang dewa, peletakan urutan masing-masing dewa juga ada aturannya. Peletakan rupang Sang Buddha di dalam ruangan atau di meja kongpo harus di posisi paling atas setelah Dewi Kwan Im. Ini sebagai simbol bahwa Dewi Kwan Im menghormati Sang Buddha. Begitu juga dengan posisi dewa yang lainnya, dia harus berada di bawah dewi Kuan Im, sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Kwan Im.

Pada skala ruang kawasan konsep ruang penghormatan ini terlihat jelas pada waktu prosesi penguatan abu dan perayaan ulang tahun Kongco atau Makco. Penguatan abu untuk Kongco
Sam Poo Tay Djin ini hanya terjadi di Semarang. Prosesi ini dilakukan dengan membawa Kongco Duplikat dan abu hionya yang ada di Tay Kak Sie akan di arak ke Klenteng Sam Poo Kong pada waktu subuh dan malamnya dibawa kembali ke klenteng Tay Kak Sie melalui serangkaian upacara keagamaan.

Konsep ruang penghormatan juga bisa dilihat pada perayaan Kongco
Po Seng Tay Tee. Konsep ruang peghormatan untuk prosesi HUT Kongco
Po Seng Tay Tee hampir mirip dengan Sam Po Tay Djin, yang membedakan hanya besaran arakannya dan rute arakan. Guna menghormati Kongco
Sam Poo Tay Tee dan memperingati awal kedatangannya, patung Kongco akan diarak ke arah Boom Lama tempat di mana Kongco ini pertama kali mendarat tahun 1860.

Setelah Kongco Sam Poo Tay Djin dan
Po Seng Tay Tee pulang dari Simongan dan Marina, untuk menghormati dan memperingati kedatangan kongco.
Kongco akan diarak keliling Pecinan untuk mengunjungi tiap klenteng, atau Jut Bio. Pada saat itu ruang jalan yang dilewati oleh Konco akan berubah menjadi ruang tempat penghormatan Kongco
Sam Poo Tay Tee. Pada waktu prosesi jut bio ini tiap kelenteng di Pecinan Semarang sudah menyediakan sesaji pada altar khusus yang disediakan di ruang depan pintu utama tiap kelenteng. Ruang teras depan pintu utama kelenteng akan disulap menjadi ruang penghormatan (untuk kelenteng yang masih memiliki halaman), sementara kelenteng-klenteng kecil yang langsung berbatasan dengan jalan akan memanfaatkan ruang jalan sebagai ruang Penghormatan.

Umat Tri Dharma yang memiliki keinginan akan melakukan do’a di depan kelenteng dan sebagian melakukan di depan rumah di sepanjang jalan yang dilalui. Pada saat dilakukan prosesi penghormatan ini untuk sementara lalu lintas yang ada di depan kelenteng hanya menggunakan setengah lebar jalan atau berhenti sesaat. Konsep ruang penghormatan ini juga ditemui pada saat peringatan ulang tahun Dewi Laut (Tian Sian Seng Boo), Dewa Bumi Hok Tik Jeng Sin. Baik pada waktu prosesi sembahyangan mau pun jut bio.


Gambar 1. Ruang Penghormatan di Halaman Kelenteng Tay Kak Sie.

Halaman Kelenteng Tay Kak Sie sebagai Tempat Penghormatan pada Prosesi Sembahyangan Besar

Sumber: Peneliti, 2013

Di dalam bangunan kelenteng baik kelenteng besar maupun kelenteng kecil konsep ruang penghormatan terhadap Tian dan dewa/dewi ditemui di ruang sembahyangan utama. Hal yang membedakan adalah posisi altar untuk Tian di kelenteng besar berada di ruang sembahyangan utama dalam bangunan kelenteng yang menghadap ke void/ciam cay sementara di kelenteng kecil berada di bagian serambi depan yang langsung berhadapan dengan ruang jalan.

Penghormatan pada Tian lewat zhong ini juga dilakukan dengan menggantikan dan menuang teh, air putih, arak (arak, teh dan air putih) dalam masyarakat Tionghoa melambangkan unsur yin dan yang) dan buah-buahan atau makanan, serta menempatkan rupang pada posisi tertentu. Penempatan rupang dewa/dewi tidak boleh disatukan dengan meja rupang abu leluhur. Masyarakat Tionghoa meyakini kalau rupang dewa/dewi di jadikan satu maka kehidupan yang masih hidup (anak cucu) akan morat-marit. Hal ini disebabkan karena hawa mereka berbeda.

Sementara terkait dengan peletakan rupang dewa, yang menjadi dewa utama posisinya harus di tengah atau ruang utama dan memiliki posisi yang lebih tinggi. Sebagai contoh rupang Dewa Bumi Hok Tek Tjeng Sien harus lebih rendah dari Dewi Kwan Im, Dewi Kwan Im harus lebih rendah dari Sang Buddha. Demikian juga dengan peletakan dewa/dewi di klenteng. Dewa utama tiap kelenteng juga diletakkan di bagian ruang utama jika kelenteng besar, tetapi jika kelenteng kecil rupang dewa utama cukup diletakkan di bagian tengah. Di klenteng Tay Kak Sie yang bernapas Buddha yang memuja Dewi Kwan Im, maka letak rupang Dewi Kwan Im ini berada di bagian ruang utama di titik tengah. Sedang dewa-dewa lain barada di kanan atau kiri, dalam ruang yang sama atau malah ada di sayap kanan dan kiri.

Membangun klenteng di Pecinan selain untuk berterima kasih pada Dewa, juga di lakukan untuk menghormati sosok orang yang dianggap memberi manfaat pada banyak orang. Seperti pembangunan klenteng Sie Hoo Kiong di Jalan Sebandaran. Klenteng Sie Hoo Kiong ini dibangun untuk menghormati pejabat tinggi Tan Goan Kong yang dianggap berjasa membuat masyarakat menjadi beradab dan taat beribadah. Begitu juga ketika Presiden Gus Dur wafat, warga Tionghoa, tidak hanya di Pecinan Semarang, percaya bahwa sosok ini akan naik derajatnya menjadi dewa yang patut dihormati oleh masyarakat luas karena jasanya. Gus Dus dipercaya berkontribusi besar bagi kehidupan masyarakat, kebudayaan dan negara. Apa yang dilakukan masyarakat ini sebagai salah satu bentuk penghormatan yang cukup mendalam terhadap sosok Presiden Abdul Rahman Wahid, hanya karena larangan dari keluarga Gus Dur maka patung Gus Dur tidak jadi di letakkan di dalam kelenteng.

Konsep ruang penghormatan selain di ruang satya, juga ditemui pada ruang laku bakti, yaitu ruang tempat masyarakat meletakkan kongpo penghormatan pada leluhur. Penghormatan pada leluhur merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarga dalam masyarakat Tionghoa. Hubungan antar manusia yang hidup dengan pendahulunya dalam tradisi Tionghoa tidak akan hilang, walaupun mereka telah meninggal. Orang yang tidak lagi menghormati leluhurnya yang telah meninggal, akan dianggap sebagai seorang anak durhaka. Hal ini karena mereka dianggap telah melupakan asal usul dan jasa dari para pendahulunya, bahkan melupakan akar kehidupannya sendiri. Penghormatan kepada leluhur ini bukanlah sikap menyembah, seperti menyembah dewa, tetapi lebih ke arah untuk mengingat budi baik.

Ruang penghormatan ini selalu berada di ruang utama seperti di ruang tamu atau pun ruang toko yang disekat. Kedua ruang ini merupakan ruang utama pada bangunan dengan tipe rumah toko, sementara pada bangunan dalam bentuk courtyard, ruang utama ada di bagian tengah bangunan. Peletakan kongpo di ruang utama ini mengandung harapan bahwa orang yang datang akan mudah melihat dan mengingat leluhurnya. Posisi peletakan abu/foto/papan nama leluhur harus lebih tinggi dari yang hidup, hal ini merupakan wujud untuk menghormati orang tua/leluhur setelah orang tua tiada.


Gambar 2. Ruang Penghormatan di dalam Bangunan Hunian atau Ruko

Sumber: Peneliti, 2013

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa arwah leluhur yang dipelihara dengan baik dan dihormati akan memberikan perlindungan pada keturunannya. Bentuk laku bakti ini dilakukan dengan memberikan sesaji dengan menyediakan teh atau makanan kesukaan dan arak tiap ulang tahun. Ini merupakan satu bentuk penghormatan. Demikian pula makanan yang disediakan ada waktu festival tertentu.

Konsep ruang penghormatan pada leluhur lahir sebagai bagian dari aktivitas laku bakti (xiao).
Konsep ruang penghormatan pada leluhur ini berbeda dengan konsep peletakan rupang Dewa/Dewi. Meja altar leluhur biasanya diletakkan di ruang utama. Ruang ini biasanya berada di dalam bangunan terlindung atap dan terletak pada bagian tengah bangunan. Ruang ini juga yang berdampingan dengan ruang terbuka (tanpa atap) tempat kongpo Dewa sebagai sarana untuk berhubungan dengan penguasa alam semesta (untuk melakukan penghormatan pada langit dan bumi).

Peletakan meja di ruang utama ini mengandung harapan, agar mudah dilihat orang dan orang yang berkunjung turut mengingat leluhur untuk didoakan. Peletakan foto untuk leluhur ini, di bagian tengah meja, atau digantungkan di dinding dan baru ditaruh meja ketika ada sembahyangan. Meja kongpo leluhur ini biasanya memiliki tinggi 90cm. Tinggi ini dimaksudkan untuk membedakan dengan alam orang hidup (thi-cu) dengan leluhur yang sudah meninggal.


Gambar 3. Ruang Penghormatan Leluhur. di Klenteng Abu/Marga

Ruang Utama (Tengah) sebagai Tempat Abu Leluhur yang dilengkapi dengan Ruang Pertemuan Lengkap dengan Meja dan Kursi

Sumber: Peneliti, 2013

Jika di meja altar juga terdapat abu leluhur, maka tiap tahun satu kali, abu diayak sebagai lambang bahwa anak masih memberatkan orang tua. Sedang pada rumah abu, kelenteng marga atau pada gedung-gedung yang berfungsi sosial konsep ruang penghormatan pada leluhur ini dilakukan dengan cara yang lebih dari yang dilakukan di bangunan rumah/ruko. Di kelenteng Tay Kak Sie dan Wei Wei Kiong, untuk menghormati leluhur, ruang abu dilengkapi dengan meja pertemuan besar. Di belakang meja ini di bagian tengah diletakkan abu leluhur dari orang-orang terkenal dan dianggap sangat berjasa pada masa itu. Sementara di ruang di sebelah kanan dan kiri, digunakan untuk meletakkan abu atau papan nama orang-orang yang tidak punya ahli waris.

Penempatan ruang penghormatan pada leluhur pada bangunan organisasi sosial dua lantai seperti gedung Rasa Dharma, secara posisi sama dengan pada bangunan satu lantai, yaitu pada bangunan/ruang utama. Hal yang membedakan adalah untuk leluhur yang sudah dianggap sebagai dewa, peletakannya di posisi lantai dua. Sedang untuk lantai satu digunakan untuk tokoh yang berperan dalam pendirian organisasi.


Gambar 4. Konsep Penempatan Ruang Pemujaan Pada Leluhur dan Dewa Dibangunan Dua Lantai

Sumber: Peneliti, 2014

Sementara dari tema empiris ruang sebagai tempat berekspresi, peneliti juga melihat adanya konsep ruang penghormatan. Konsep ruang penghormatan ini jelas terlihat, ketika klenteng berubah menjadi tempat penerima tamu, terutama tamu agung. Tamu agung dari berbagai negara atau pejabat tinggi negara selalu diterima di ruang klenteng, utamanya klenteng besar Tay Kak Sie atau klenteng besar lainnya, seperti klenteng Wie-Wie Kiong atau Sie Hoo Kiong. Tamu yang diterima di klenteng ini selain diterima langsung oleh pemimpin Suku Tionghoa juga akan disuguhi beberapa atraksi atau di sambut dengan pertunjukan barongsai.

Penerimaan tamu di kelenteng besar atau kelenteng kawasan, ini selain untuk menghormati tamu, juga karena ukuran bangunan kelenteng perlindungan kawasan dan kelenteng besar, ukurannya relatif lebih besar dibanding kelenteng yang lain, sehingga masih memungkinkan atau masih menyisakan ruang-ruang yang bisa digunakan untuk fungsi tambahan, selain ruang sembahyangan utama. Abstraksi dari berbagai tema empiris menjadi sebuah konsep ruang penghormatan ini secara diagram dapat dilihat pada diagram berikut:

Ruang Perlindungan
Ruang Laku Bakti
Ruang Bersyukur
  • Konsep Ruang Penghormatan
Ruang Zhong
Ruang Ekspresi
Ruang Teladan
Gambar 5. Diagram Abstraksi Konsep Ruang Penghormatan

(Sumber: peneliti, Desember 2013)

  1. Konsep Sistem Ruang Penghormatan

Ruang dalam konsep penghormatan ini secara keseluruhan membentuk sistem ruang yang saling berkait antara mikrokosmos dan mikrokosmos. Ruang mikrokosmos atau ruang untuk yang hidup ini berada di dalam bangunan yang beratap, dan ruang untuk penguasa alam semesta berada di dalam ruang mikrokosmos, yang tidak beratap, atau yang memiliki hubungan langsung dengan langit.

Ruang penghormatan pada leluhur berada pada bangunan utama yang beratap yang biasanya berada di bagian tengah sisi belakang (dekat dengan ruang untuk orang tua). Bangunan utama ini biasanya memiliki kualitas yang lebih baik dari ruang lainnya seperti halnya ruang pemujaan utama di dalam kelenteng. Sementara ruang untuk penghormatan langit dan bumi (penguasa alam semesta) berada di ruang yang ada bukaan langsung ke arah langit (lubang courtyard). Bukaan ini merupakan sarana untuk menghubungkan langsung manusia dengan penguasa alam, tetapi letaknya masih di dalam ruang mikrokosmos.

Ruang mikrokosmos ini dilindungi dari pengaruh roh jahat atau roh gentayangan dengan berbagai cara, supaya yang hidup memiliki kehidupan yang baik. Di antara ruang mikrokosmos dan mikrokosmos ini dihubungkan dengan pintu terluar bangunan, yang digunakan untuk melakukan penghormatan pada arwah yang tidak terurus. Penghormatan pada arwah tidak terurus ini lebih bersifat untuk menenangkan, sehingga tidak menimbulkan gangguan di ruang mikrokosmos.

Konsep ruang penghormatan ini dalam skala yang lebih kecil, juga menganut aturan pola-pola peletakan rupang di dalam meja kongpo, sebagai bentuk penghormatan terhadap dewa yang dianggap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding lainnya. Pola-pola pada sistem penghormatan ini jika diabstraksikan akan membentuk nilai ruang yang semakin ke tengah akan semakin tinggi nilainya, begitu juga semakin ke arah atas.

Ruang penghormatan ini utamanya adalah ruang penghormatan pada leluhur (ruang xiao). Ruang ini biasanya terletak di bagian ruang utama yang posisinya di bagian tengah bangunan. Penempatan ruang penghormatan leluhur di bagian tengah ini, karena leluhur memegang arti penting bagi Etnis Tionghoa. Bagi etnis ini posisi leluhur adalah tinggi, yaitu di antara alam langit dan alam manusia. Hal ini dikarenakan leluhur dianggap sebagai perantara lahirnya manusia.


Gambar 5. Konsep Sistem Ruang Penghormatan

Sumber: peneliti, 2014

Sementara ruang penghormatan pada dewa dan langit, muncul setelah ajaran Budha masuk dalam kehidupan Etnis ini. Dari posisi peletakan rupang di meja altar terlihat bahwa ada satu aturan yang jelas bahwa dewa yang memiliki kedudukan lebih tinggi memiliki posisi yang lebih tinggi dan semakin ke tengah, dengan posisi yang tertinggi adalah sang Buddha dan di atas sang Buddha yang tidak bisa digambarkan posisinya di meja altar adalah Tian atau langit, sehingga altarnya selalu mengarah pada ruang yang ada bukaan langsung menghadap langit.

  1. Kesimpulan dan Saran

Dari serangkaian analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat satu karakter pelapisan ruang yang terbentuk dari nilai ruang dalam konsep ruang penghormatan. Dari posisi peletakan meja altar dan posisi rupang di atas meja altar terlihat bahwa ruang yang paling tengah dan atas memiliki nilai yang lebih tinggi di banding sisi yang lainnya. Sementara antara ruang Penghormatan pada leluhur dan ruang penghormatan kepada dewa letaknya harus dipisah karena memiliki hawa yang berbeda. Pembedaan ruang ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan rupang dewa dan abu leluhur pada altar yang berbeda atau pada lantai yang berbeda, leluhur di lantai dasar dan dewa di lantai atas. Karakter pelapisan secara horisontal dan vertikal ini dapat dilihat pada gambar berikut:


Gambar 6. Ilustrasi Nilai Ruang dalam Konsep ruang Penghormatan

Dalam ilustrasi ini, nilai ruang akan semakin tinggi jika mengarah ke tengah dan ke atas.

(Sumber: Peneliti, 2012)

Beberapa saran yang bisa diberikan, dari hasil penelitian ini, adalah bahwa penelitian ini dilakukan di kawasan Pecinan Semarang yang dimungkinkan terdapat perbedaan dengan karakter di kawasan Pecinan Lainnya, sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut di beberapa kawasan Pecinan lain, agar generalisasi temuan akan lebih baik.

Daftar Pustaka..

Text Book :

Liem T.J., 1931, “Riwajat Semarang dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan”. Tjitakan Pertama, Boekhandel Ho Kim Yoe, Semarang-Batavia.

Rapoport, A., 1977, “Human Aspects of Urban Form: Toward a Man Environment Approach to Urban Form dan Design” 2nd Edition, Printed in Great Britain, Wheaton & Co. Ltd, Exeter. Oxfort: Pergamon Press.

Rapoport, A., 1984, “Asal-Usul Budaya Pemukiman, dalam Pengantar Perencanaan Kota. Penyunting Catanese J. A., dan Snyder, terjemahan Sasongko, Airlangga, Jakarta

Jurnal :

Basbiansyah.,2008, Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi, Jurnal Mediator, , Juni 2008, Vol. 9, No. 1.

Edited Book :

Kautsary, J., 2006, Penolakan Warga Pecinan terhadap Kebijakan dan Program Revitalisasi Pecinan Semarang, Tesisi MPKD UGM, Jogjakarta, Tidak dipublikasikan.

Sudaryono, S., 2003, “Metode Deduktif dan Induktif dalam Penelitian Arsitektur, Workshop of Architecture Research Method and Implementation, Diponegoro University, Semarang.

Widodo, J., 1988, “Chinese Settlement Changing City an Achitectural Study Of Urban Chinese Settlement in Semarang”, Thesis, Lauven University, Belgium.

Batas waktu pengiriman full paper adalah 1 Juli 2014 dikirim ke alamat seraptiga@gmail.com dan disertai dengan bukti pembayaran sebagai pemakalah. Pembayaran melalui Bank Mandiri no. rekening 1370004051708 atas nama Dyah Titisari Widyastuti paling lambat tanggal 1 Juli 2014.

About Jamilla Kautsary

Aku ada karena kamu
This entry was posted in Pecinan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s