Ruang Kebertahanan Sosial, Ekonomi dan Budaya di Pecinan Semarang


Ruang Kebertahanan Sosial, Ekonomi dan Budaya di Pecinan Semarang

Jamilla Kautsary 1), A. Djunaedi), Sudaryono3) dan Leksono P. Subanu4)

Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia

j_kautsary @hotmail.com

achmad_djunaedi@yahoo.com

Sudaryono_sastrosasmito@yahoo.com

lsubanu@email.com

Introduction

Kawasan Pecinan Semarang mulai tumbuh setelah dipindahkannya permukiman Etnis Tionghoa oleh Bangsa Belanda dari Simongan ke Semarang. Pemindahan ini dilakukan untuk alasan keamanan dan kemudahan pengawasan setelah pemberontakan Cina di Batavia. Pemindahan pemukim Tionghoa ini terjadi pada tahun 1740. Tahun 1741 karena alasan perluasan permukiman Belanda ke selatan, Belanda memindahkan permukiman etnis Tionghoa dari sebelah Timur Kali Semarang ke sebelah Barat Kali Semarang, tepatnya di selatan Pemukiman Belanda (Liem T J, 1931: 4).

Pemindahan pemukim etnis Tionghoa ini merupakan bagian dari politik pecah belah Belanda. Politik tersebut menyebabkan munculnya tekanan keamanan dari berbagai kelompok masyarakat. Belanda mendudukkan etnis ini sebagai tangan kanannya dalam menjalankan kegiatan perdagangan dan penarik pajak yang kadang dirasa memberatkan kaum pribumi. Tekanan politik ini terus berlanjut pada era orde baru dalam bantuk yang lain.

Masyarakat etnis Tionghoa juga dikenal sebagai masyarakat yang masih kuat menjalankan tradisi leluhur. Ini terlihat dari aktivitas budaya dan keagamaan yang dilakukan kelompok ini. Tradisi tersebut mempengaruhi fungsi, makna dan preferensi masyarakat terhadap ruang-ruang yang ada di kawasan. Ruang-ruang di kawasan Pecinan terutama ruang jalan dan ruang klenteng sering berganti fungsi. Perubahan fungsi ini merupakan upaya masyarakat dalam menjalankan tradisi dan budaya di tengah tekanan kebijakan/politik.

Beragam tekanan politik di atas membuat perlindungan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan etnis Tionghoa. Perlindungan ini tidak hanya terkait dengan ancaman hawa buruk (sha),atau ancaman keamanan dari musuh, tetapi juga ancaman terhadap aktivitas ekonomi, sosial dan budaya. Ruang perlindungan untuk pertahanan ini juga dapat dikatakan sebagai bagian dari rangkaian proses adaptasi ruang etnis Tionghoa di Pecinan

Perpaduan antara kebutuhan ruang ke perlindungan dan tradisi yang kuat dari etnis Tionghoa ini kemudian membentuk satu konsep ruang kebertahanan yang unik. Kebutuhan terhadap ruang-ruang perlindungan dan kebertahanan ini dapat dilihat dari beragam fenomena seperti adanya keragaman fungsi dalam satu bangunan, munculnya organisasi suku, dan pengelompokan kegiatan perdagangan.

Literatur review and methodology

Result and discussion

Konsep ruang kebertahanan dalam skala yang lebih kecil dapat dilihat pada ruang-ruang jalan dan bangunan. Ruang-ruang jalan di kawasan ini terus berganti fungsi dari pagi hingga sore, dari ruang parkir sampai ke ruang untuk berjualan makanan, dan ruang ini akan berubah menjadi ruang kehidupan lainnya bagi banyak orang. Pemanfaatannya ruang ruko juga semakin kompleks untuk bertahan. Dalam satu ruko bisa menampung 3-4 kegiatan bisnis keluarga. Mereka berbagi ruang untuk bertahan hidup dan mencari penghidupan yang lebih baik.

Sementara bagi golongan yang sudah tua, dan jauh dari sanak saudara, atau yang kurang mampu, mereka melakukan kegiatan ngalap berkah dengan mencari keberuntungan (Hokki) rezeki di klenteng. Mereka biasanya datang pagi dan nongkrong di ruang serambi kelenteng, kadang sampai sore. Golongan manula ini biasanya sudah tidak bekerja. Mereka kebanyakan berharap akan ada pengunjung klenteng yang mau berbagi rezeki untuk menyambung hidup/untuk bertahan hidup. Ruang berbagi ini berada di sayap kiri dan teras sebelah kiri.

Sayap kanan bangunan klenteng juga menjadi ruang untuk menjual kebutuhan sembahyangan, seperti hio, lilin, kertas hu dan minyak sayur. Halaman depan, serambi kanan digunakan untuk berjualan burung (pipit, dara atau yang lainnya), untuk kebutuhan upacara cisuak/buang jiong. Sedang penjualan makanan biasanya ada di bangku depan atau di bawah pohon Bodi. Sebaran tempat untuk kegiatan ekonomi di ruang klenteng ini dapat dilihat pada gambar berikut:


Gambar 6.10. Tempat Kegiatan Ekonomi di Ruang Klenteng.

Sumber: Peneliti, 2014

Di dalam klenteng itu sendiri semenjak Orde Baru, terdapat beragam macam dewa/dewi dari tiga agama yang disatukan. Di dalam beberapa klenteng, seperti klenteng besar Tay Kak Sie yang bernafas Buddha, terdapat beberapa pembagian ruang, untuk mewadahi kebutuhan ritual dan religi dari 3 penganut kepercayaan Buddha, Konghucu dan Tao. Dewa utama aliran Buddha diletakkan pada ruang sembahyangan utama yang posisinya berada di tengah, sementara dewa/dewi lainnya berada di ruang sayap sebelah kiri dan kanan bangunan utama. Sedang untuk klenteng kecil yang hanya memiliki satu lapis bangunan, berbagi tempat untuk penempatan altar dewa ini dilakukan dalam satu ruang, di sebelah meja altar dewa utama, di kiri dan kanan, atau di sisi kiri saja.

Keterbatasan lahan dan ruang, serta banyaknya pembatasan kegiatan di tempat umum semenjak Orde Baru juga membuat klenteng memiliki fungsi yang majemuk. Klenteng saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat sembahyangan dan tempat mencari berkah keselamatan, tempat berkumpul, tempat menerima tamu, tempat berbisnis/kegiatan ekonomi, dan untuk kegiatan sosial budaya lainnya seperti pentas seni, pameran hasil kerajinan, atau pun latihan wu-shu. Kegiatan ini biasanya berlangsung di teras depan atau serambi. Kegiatan ini bisa berlangsung dalam waktu yang sama walau antara satu kegiatan dengan kegiatan lain saling bertentangan seperti antara sembahyangan dan kegiatan karaoke dan sembahyangan malam Sincia di Kelenteng Tay Kak Sie. Konsep berbagi ruang ruko dan klenteng di atas, merupakan bentuk kebertahanan lapis ke-1.

Keteguhan masyarakat Tionghoa dalam menjalankan laku bakti baik ke Tian (Zhong) maupun ke leluhur (Xiao), membuat mereka kuat dan mampu menerima tekanan. Pada lapis kedua konsep kebertahanan orang tua biasanya mengajarkan ajaran lalu bakti ini mereka ajarkan ke pada keluarga dengan cara menghormati leluhur, sistem kekerabatan dan budaya makan bersama terutama pada malam Cin Cia. Pada malam Cin Cia acara makan bersama merupakan salah satu media yang mengeratkan kembali keluarga yang terpisah karena adanya keluarga baru, demikian juga dengan ritual sembahyangan leluhur dan Cheng beng. Melalui laku bakti terutama penghormatan dan sembahyangan kepada leluhur rasa persaudaraan bisa dipererat dan mereka merasa akan selalu ada yang melindungi dan ini yang membuat mereka bisa bertahan. Mereka percaya kalau mereka menjalankan laku bakti ke leluhur dengan baik dan berdoa sungguh-sungguh, leluhur dan dewa tentu akan membalas budi dengan melindungi mereka. Perlindungan dalam satu keluarga (marga) ini merupakan bentuk perlindungan lapis ke-2.

Klenteng juga berfungsi sebagai tempat untuk berekspresi.Ikatan yang kuat terhadap daerah asal masyarakat Tionghoa, juga menyebabkan masyarakat ini memiliki ikatan-ikatan kelompok suku. Banyak ikatan kelompok suku didirikan untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan masing-masing anggotanya di tempat yang baru atau berhubungan dengan keluarganya di daerah asal. Beberapa kelompok suku yang dijumpai di Pecinan Semarang adalah suku seperti Hakka, Hokkian, Hokchia, Konghu, Tiociu, ada pula perkumpulan/organisasi/yayasan (Ho Hap Hwee, Tji Lam Tjay, Kong Tik Soe, THHK, dll.). Perlindungan yang ditawarkan kelompok suku ini merupakan bentuk perlindungan lapis ke-3.

Di Pecinan Semarang juga ditemukan indikasi adanya pengelompokan masyarakat sesuai barang dagangan atau keahlian, dalam menjalankan kehidupannya, yang mayoritas bergerak di sektor perdagangan. Hal ini dikarenakan mereka datang dari provinsi yang berbeda. Propinsi berbeda ada kemungkinan suku berbeda. Hokien (Min Nan) yang memiliki keahlian berdagang dan dominan dalam perdagangan palawija dan hasil bumi, Hakka/Khek yang biasanya punya usaha kelontong, Tio Ciu usah rumah makan, tukang besi/toko besi dulu, Hokja/Fu Qing yang bisanya sebagai rentenir (usaha perbankan), atau toko kain.

Aglomerasi perdagangan ini pada saat awal merupakan bentuk/cara mereka bertahan di lingkungan baru. Sementara pada saat ini bentuk pengelompokan kegiatan juga muncul sebagai salah satu konsep ruang dalam kebertahanan dalam bidang ekonomi. Aglomerasi ini memungkinkan adanya peluang pembeli lebih banyak datang, karena adanya beragam pilihan. Bentuk aglomerasi ini dari beberapa tokoh masyarakat Tionghoa, dipercaya sebagai bentuk pertahanan lapis ke-4.


Gambar 6.14. Pengelompokan Kegiatan Sebagai Salah Satu Bentuk Konsep Ruang Kebertahanan

Sumber: Peneliti, 2013.

Konsep ruang kebertahanan di kawasan Pecinan Semarang ini baik dari sisi perlindungan dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya tidak begitu banyak mengalami perubahan. Meningkatnya jumlah penduduk di Pecinan baik penduduk lama atau pun pendatang baru yang masih berstatus WNA dan mencoba mengais rezeki di kawasan ini, serta makin padatnya kampung kota di sekitar Pecinan, membuat kawasan ini terus tumbuh sebagai lahan yang subur untuk mencari penghidupan. Banyak warga pendatang dari Cina mau pun dari Taiwan yang berjualan atau berbisnis di kawasan ini sejak awal berdirinya kawasan Pecinan Semarang sampai saat ini. Tahun 2005 jumlah warga negara asing di kawasan ini 253 jiwa, sementara tahun 2014 dari data Profil Kelurahan Kranggan jumlah Warga Negara Asing berjumlah 238 jiwa.

Kedatangan pedagang dari negeri Tiongkok secara terus menerus ini, dalam pemikiran salah satu Kapiten Tionghoa di masa lalu memunculkan ide untuk membuat sebuah organisasi pelayanan pengajuan pada tahun 1837. Organisasi tersebut kemudian diberi nama Tjie Liam Jay. Peran organisasi ini dalam catatan menurut Liem TJ, (1931:102) adalah menyediakan informasi terkait dengan berbagai peraturan, perundangan dan informasi lainnya yang mereka warga Tionghoa pendatang baru.

Organisasi ini dalam perkembangannya kemudian terpecah menjadi dua bidang. Bidang pertama mengurusi segala permasalahan yang terkait dengan perizinan, hukum, peraturan dan urusan dengan polisi. Bidang ke-dua mengurusi urusan upacara keagamaan, kematian dan hal-hal lain yang terkait dengan kebutuhan ritual dan budaya orang Tionghoa seperti upacara besar di klenteng Tay Kak Sie.

Organisasi Tjie Liam Tjay ini
tidak hanya mengurusi urusan yang terkait dengan penyediaan informasi dan penyelesaian masalah peraturan, perundangan dan polisi, kematian dan ritual. Saat ini masalah pelayanan kesehatan (praktek dokter modern dan akupuntur), senam Tai Chi (untuk manula) dan pendidikan dari sekolah dasar-SMP (sekolah Kuncup Melati) juga menjadi hal yang diperhatikan. Di sekolah yang diperuntukkan bagi orang kurang mampu ini siswa diwajibkan untuk mengikuti kebaktian Konghucu tiap Minggu, dan setelah guru pengajar Konghucu tidak ada saat ini sekolah mewajibkan murid untuk mengikuti kebaktian Budha atau Hindu.

Kebaktian Buddha dilakukan tiap hari Minggu di Wihara Sarana Bakti. Guna menuju ke sana, sekolah menyediakan sarana transpor untuk antar jemput. Selain diwajibkan mengikuti kebaktian Buddha, Hindu, Konghucu dan Tao, anak didik juga diberi ekstra kurikuler kesenian. Beberapa ekstra kurikuler yang bisa dipilih antara laian adalah seni barongsai yang diajarkan oleh Pak Holi, seni gamelan (Gambang Semarang) tari tradisional Tiongkok dan bahasa Mandarin.

Terkait dengan kebertahanan Sosial dan budaya ini, kelenteng Besar Tay Kak Sie memalui Tjie Liam Tjay juga memiliki peran yang cukup besar dalam hal penentuan kalender kegiatan budaya ritual keagamaan seperti sembahyangan besar dan upacara pemakaman atau kegiatan yang terkait dengan budaya religi lainnya. Kalender kegiatan di kelenteng lain biasanya mengacu pada kalender kegiatan yang ditetapkan oleh Kelenteng besar ini dan hal ini tidak hanya berlaku di klenteng-klenteng yang ada di Pecinan tapi juga untuk Semarang dan sekitarnya.

Peran kelenteng besar yang lainnya adalah mengenalkan dan mengembangkan budaya Tionghoa dikalangkan generasi muda. Pengenalan ini untuk menumbuhkan rasa mencintai budaya leluhur yang mengandung nilai-nilai budaya tinggi dan melestarikan budaya Tionghoa pada umumnya dan kelenteng pada khususnya agar kelenteng. Upaya pengenalan ini juga sebagai wujud dari Tri Dharma dan sebagai upaya agar masyarakat Tionghoa memiliki generasi penerus sebagai upaya untuk mempertahankan Budaya.

Organisasi sosial di Pecinan ini tidak hanya satu Tjie Liam Tjay. Ada beberapa organisasi serupa di antaranya Tunas Harum Harapan Kita (THHK), dan Boen Hian Tong (Perkumpulan Rasa Dharma). Organisasi dalam wadah THHK ini juga bergerak di berbagai bidang. Mulai sekolah Mandarin yang mengajarkan bahasa, kesenian dan tari dan menulis dengan huruf Cina) serta sekolah formal lainnya dari tingkat TK sampai SMA. Yayasan ini juga menyediakan pelayanan kesehatan dengan biaya yang relatif murah untuk golongan masyarakat Tionghoa yang tidak mampu dengan dokter yang didatangkan dari Rumah Sakit Tlogorejo. Biaya yang dibebankan untuk periksa dan obat hanya Rp. 16.000,00 rupiah. Organisasi THHK ini menyediakan beasiswa bagi yang kurang mampu seperti halnya sekolah Kuncup Melati.

Sementara organisasi komunitas Boen Hian Tong yang bertempat di Rasa Dharma yang didirikan pada tahun 1876, merupakan organisasi yang didirikan oleh sekelompok budayawan. Pada bangunan Rasa Dharma ini, terdapat altar sembahyangan untuk dewa Long Koen Ya. Dewa ini merupakan sosok dewa yang menyukai musik Lam Kwan yang sekaligus dianggap oleh masyarakat sebagai dewa pelindung musik. Pada awalnya organisasi ini dikenal sebagai perkumpulan pria eksekutif Tionghoa yang gemar memainkan musik Lam Kwan (karaoke). Saat ini berbagai seni dan budaya banyak ditampilkan di dalam bangunan ini, termasuk latihan musik Gambang Semarang sebagai bentuk akulturasi alat musik Cina dan Gamelan Jawa. Gambang Semarang ini biasanya dimainkan anak-anak SD Kuncup Melati tiap hari Rabu. Sementara kegiatan dansa dan menyanyi lagu Mandarin bagi golongan usia tua dilakukan pada hari Kamis.

Saat ini beberapa organisasi komunitas di Pecinan di atas masih terus eksis, dan sebagian juga yang mempunyai bidang advokasi bagi kaum Tionghoa ini antara lain adalah:

  1. PSMTI (Persatuan Sosial Marga Tionghoa Indonesia)
  2. INTI (Indosesia Tionghoa)
  3. PORINTI (Persatuan Oganisasi Indonesia Tionghoa), Semarang
  4. Perkumpulan Sosial Rasa Dharma (d/h Boen Hian Tong), Semarang
  5. Sekolah Kuncup Melati, Semarang (d/h Khong Khouw Hwee)
  6. Balai Pengobatan Sin Yu She, Semarang

Secara menyeluruh organisasi ini dalam kegiatan/aktivitasnya terlihat jelas pada upaya mempertahankan eksistensi mereka
dan mempertahankan kehidupan ekonomi, sosial dan
budaya mereka di negara baru dengan tekanan politik yang kuat terutama pada masa penjajahan Belanda dan masa Orde Baru. Organisasi komunitas ini merupakan bagian dari pertahanan tingkat atau lapis ke 5 (terluar).

  1. Struktur Ruang Kebertahanan

Dari serangkaian uraian di atas, dapat dipahami bahwa konsep ruang kebertahanan merupakan salah satu hal yang penting dalam menjaga sistem nilai budaya bagi masyarakat Tionghoa di Pecinan Semarang. Pilihan-pilihan hidup di negara baru yang memiliki tekanan politik yang kuat membuat mereka menggunakan beberapa strategi untuk bertahan. Konsep kebertahanan ini di kawasan Pecinan terbentuk perlindungan, penghidupan, ngalap berkah, berbagi dan berekspresi.

Ruang Perlindungan
Ruang Penghidupan
Ruang Ngalap Berkah
  • Konsep Ruang Kebertahanan
Ruang Berbagi
Ruang Berekspresi
Gambar 6.19. Abstraksi Konsep ruang Kebertahanan

(Sumber: peneliti, Desember 2013)

Perlindungan tipe kedua terkait dengan perlindungan terhadap kegiatan ekonomi, sosial dan budaya di kawasan Pecinan. Konsep perlindungan terhadap kegiatan sosial, ekonomi dan budaya ini berlangsung dalam berbagai tingkatan/lapisan.

  1. Lapisan pertama terlihat jelas dari simbol fisik yang digunakan seperti pagar besi yang ada di tiap bangunan atau desain bangunan yang minim akan ventilasi/bukaan;
  2. Lapisan kedua, yang dianggap perlindungan paling dasar, adalah perlindungan dalam tingkat keluarga atau marga. Dalam tingkatan ini, upaya menjaga kehormatan keluarga dilakukan dengan pemberian nama marga pada nama seseorang.
  3. Lapisan ketiga, dalam tingkatan suku. Ikatan suku ini menawarkan berbagai bentuk perlindungan terkait dengan kebutuhan warga Tionghoa.
  4. Perlindungan keempat, dalam bentuk aglomerasi kegiatan, dimana tiap kegiatan bisa terdiri dari satu atau lebih kelompok suku;
  5. Perlindungan kelima atau perlindungan lapis paling luar adalah perlindungan dari organisasi sosial beradvokasi.

Pelapisan ruang perlindungan ekonomi, sosial dan budaya ini muncul akibat adanya upaya dari masyarakat untuk melindungi dan sekaligus mempertahankan diri demi keberlanjutan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya mereka dari tekanan dari bangsa Eropa dan Pemerintahan Orde Baru. Selama proses adaptasi, dilingkungkan yang baru, peran-peran organisasi suku dan komunitas ini sangat besar. Peran ini terkait dengan kebutuhan keamanan, kesehatan, pendidikan, pengajuan perizinan dan kebutuhan lainnya seperti pengurusan kematian dan kebutuhan ritual keagamaan.

Organisasi suku ini pada awal pembentukan Pecinan terkait erat dengan sejarah kedatangan kelompok-kelompok suku Tionghoa yang datang secara bersama dan membentuk kelompok permukiman, yang semakin lama menjadi sebuah gang. Organisasi suku, memang sangat sulit untuk dilacak, walau pun mereka saat ini tetap ada dalam bentuk kelompok arisan. Satu-satunya kelompok suku yang berani menunjukkan eksistensinya adalah kelompok Hakka.

Organisasi suku ini dalam sejarah perkembangan Pecinan Semarang, pada masa awal, merupakan organisasi yang mengurus kebutuhan masyarakat Tionghoa yang baru datang dan keluarga yang ditinggalkan, sampai mengurus kepulangan abu jenazah jika meninggal. Sementara peran organisasi komunitas, lebih luas lagi, sampai ke masalah perlindungan dan negosiasi jika terdapat permasalahan serius dengan kaum pribumi dan skalanya lebih luas dari yang ditangani oleh organisasi suku. Sementara perlindungan kegiatan, pada masa awal seperti halnya perlindungan suku, lebih banyak karena masalah kedekatan atau kesamaan asal daerah dan kesamaan jenis kegiatan, tetapi saat ini lebih karena alasan keberlangsungan kehidupan perdagangan/perekonomian kawasan. Hal ini karena aglomerasi kegiatan lebih banyak menghasilkan keuntungan secara ekonomi.

About Jamilla Kautsary

Aku ada karena kamu
This entry was posted in Pecinan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s