URBANISASI DAN PERMASALAHANNYA

URBANISASI DAN PERMASALAHANNYA

Salah satu contoh permasalahan akibat urbanisasi, munculnya kantong-kantong permukiman kumuh di perkotaan.

Salah satu dilema yang sangat merisaukan dalam proses pembangunan menurut Todaro (2000) adalah fenomena perpindahan penduduk dari desa ke kota secara besar-besaran. Pada tahun 1950 penduduk perkotaan di Negara Dunia ke Tiga diperkirakan berjumlah 38% dari total penduduk perkotaan di dunia (atau sekitar 724 juta jiwa). Pada tahun 1995 jumlah ini beribah sangat drastis. Berdasarkan catatan Perserikatan Bangsa-bangsa, jumlah penduduk di perkotaan Neara Dunia ke Tiga sudah sampai 2,6 miliar dan 66 % dari jumlah terebut (1,7 miliar) tinggal di perkotaan metropoltan. Kondisis ini tentu menimbulkan banyak permasalahan baik yang berdimensi ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup dan politik.

Sekilas di satu sisi adanya pemusatan penduduk yang cukup besar tersebut menurut Todaro (2000) akan membawa manfaat secara ekonomi tertentu, seperti terciptanya skala ekonomi raksasa yang memungkinkan adanya penghematan unit-unit biaya untuk menyelesaikan beragam kegiatan produksi, sumber tenaga kerja, pelaksanaan pelayanan dan penyediaan fasilitas sosial seperti transportasi masal dan potensi pasar dan lain sebagainya. Di sisi lain, banyak juga hal yang kurang disadari akibat adanya pemusatan penduduk di perkotaan dalam jumlah yang sangat besar. Jumlah penduduk yang sangat besar pada sering kali tidak diimbangi dengan penyediaan fasilitas tempat tinggal/rumah yangterjangkau tetapi juga layak. Hal ini tentu barakibat munculnya beragam masalah seperti masalah lingkungan, kriminalitas, kesehatan, lalulintas dan benyak maslaha lainnya yang ditimbulkan akibat terlampauinya daya dukung lingkungan dan sarana-dan prasarana perkotaan.

Permasalahan yang timbul dari terlampauinya daya dukung tersebut, tentu akan membuat perkotan akan semakin jauh dari kata “layak huni”. Masyarakat di perkotaan tentu tidak akan dapat menikmat berjalan kaki dengan nyaman akibat ruang-ruang pejalan kaki yang tidak manusiawi dan multifungsi, transportasi publik jauh dari kesan nyaman karen secara kualitas dan kuantitas sangat jauh dari yang diharapkan masyarakat, jarak tempat kerja dan tempat bermukin semakin jauh, kemacetan timbul akibat percampuran moda angkutan kualitas lingkungan sangat buruk dan pencemaran diman-mana dan naiknya angka kriminalitas.

Permasalah urbanisasi ini sebaliknya bagi perdesaan juga berakibat kurang baik yaitu terhambatnya pembangunan di pedesaan. Desa akan benyak kehilangan tenaga kerja produktif dan terdidik yang menyebabkan makin menurunnya produktivitas pertanian dan sumber mata pencaharian lain. Sarana dan prasarana tidak berkembang, pelayanan sosial seperti pendidikan dan kesehatan juga sulit ditemukan. Desa akan semakin tertinggal dan jauh dari kesan lingkungan permukiman yang layak untuk ditinggali.

Kondisi di atas tentu harus disikapi dengan memecahkan masalah dari akarnya. Masalah urabanisasi akibat daya tarik kota tang luar biasa secara bertahap harus dikurangi. Upaya untuk memodernisasi pedesaan dengan utilitas dan fasilitas permukiman yang layak harus diupayakan. Penyediaan fasilitas permukiman yang selama ini menjadi daya tarik perpindahan penduduk seperti fasilitas pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial budaya dan rekreasi sesuai kebutuhan masyarakat sudah harus dipikirkan. Selain itu satu hal yang tidak kalah penting adalah adanya upaya peningkatan keragaman kegiatan ekonomi di perdesaan dengan memperluas dan mengembangkan jenis lapangan pekerjaan yang berbasis sektor pertanian untuk meningkatkan pendapatan, penerapan teknologi menengah untuk masyarakat pedesaan, peningkatan usaha industri menengah dan kecil berbasis potensi lokal.

Catatan:

Todaro (2000), Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Erlangga, Jakarta.

<

p style=”text-align:justify;”>
 

Posted in Kota | Leave a comment

Kota Semarang dan Permasalahannya

Kota Semarang dan Permasalahannya


Salah satu keunikan lansekap kota Semarang diambil dari Wologito,

Sumber: Dok. Pribadi, 2016

Semarang merupakan salah satu kota metripolitan yang ada di Indonesia. Kota Semarang seperti halnya metropolitan lainnya juga menjadi daya tarik masyarakat sekitarnya (Kab.Kendal, Demak, Purwodadi dan Kab. Semarang) untuk mencari pengidupan dan pelayanan publik yang lebih baik dari pada di tempat asal. Hal-hal penarik yang menjadikan kota ini sebagai tujuan perpindahan penduduk seperti:

  1. Kelengkapan fasilitas pendidikan terutama pendidikan menengah atas dan perguruan tingggi seperti Undip, Unes, Unissula, Udinus, Unimus, Stikubang dll;
  2. Kelengkapan fasilitas kesehatan, perkantoran, perdagangan dan rekreasi baik untuk tingkat pelayanan kota dan provinsi semuanya ada di Kota Semarang;

Selain itu alasan klasik urbanisasi desa kota juga masih sangat berpengaruh. Masyarakat masih melihat dan perpikiran bahwa mencari uang di kota lebih gampang (keragaman kegiatan ekonomi), tingkat upah yang lebih tinggi dibanding daerah sekitar (utamanya pedesaan), keamanan di perkotaan lebih terjamin, kebebasan di kota lebih luas, adat dan agama lebih longgar.

Daya tarik kota ini tentuk menimpulkan masalah tersendiri bagi Kota Semarang. Beragam masalah mulai timbul karana dari sisi daya tampung dan daya dukung lingkungan sudah mulai terlampaui. Hal ini tentu akan membuat Kota Semarang akan semakin jauh dari kata “layak huni dan manusiawi”. Layak huni dan manusiawi dalam dalam arti kota bisa mewadahi aktivitas masyarakatnya secara manusiawi dan seimbang antara kegiatan ekonomi, sosial budaya, lingkungan, teknologi dan politik .

Kota Semarang yang kondisi fisik alamiahnya sangat unik, dengan bentang lahan berupa perbukitan sampai ke dataran pantai, secara alami juga memiliki keterbatasan berupa potensi bencana. Potensi bencana geologi seperti adalah adanya patahan dan tanah bergerak di bagian perbukitan yang menyebabkan sebagian kawasan perbukitan rawan longsor. Struktur geologi Semarang menurut Hadi Nugroho (2010) terdiri dari struktur sesar: sesar turun, sesar mendatar, terdapat di wilayah Gunungpati dan struktur kekar: retakan pada lapisan batuan atau tanah, tanpa disertai pergeseran atau perpindahan dari bagian. Setempat di wilayah perbukitan Gombel, G. Tugu, wilayah Sekaran. Sementara kawasan bawah/pesisir (dataran aluvial) yang belum tuntas proses pemadatannya menjadi kawasan rawan penurunan tanah. Besaran penurunan tanah ini menurut Robert K (2012) untuk Tambaklorok 11 cm dan Pengapon 8,5 cm, Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas turun 7,7 cm, Tanah Mas turun 5 cm, Bandara Ahmad Yani dan kawasan PRPP turun 3,4 cm sampai 7,6 cmKawasan Tugumuda turun 1,54 cm.

Peta penurunan tanah di Kota Semarang Utara

Sumber: Dodid M, 2016.

Berubahnya fungsi sebagian kawasan atas yang sudah ditetapkan sebagai kawasan lindung yang melindungi dibawahnya (reapan air) menjadi kawasan budidaya terbangun juga menaikkan potensi aliran air permukaan (run off) sebagai salah satu faktor penyebab banjir di Semarang. Berkurangnya resapan air di atas dan meningkatnya pengambilan air tanah melalui sumur bor di pesisir utara juga mempercepat adanya amblesan, mengingat air merupakan salah satu komponen soil.

Sumber: Hadi Nugrogo, 2010.

Masalah berikunya adalah munculnya kantong-kantong permukiman kumuh. Jumlah Kawasan permukiman kumuh ini berdasarkan SK Walikota Semarang No. 050/801/2014 bejumlah 62 titik. Kantong-kantong permukiman ini muncul salah satunya sebagai akibat desakan kebutuhan hunian/tempat tinggal bagi kaum migran yang membutuhkan tempat tinggal sementara dengan harga terjangkau. Munculnya kegiatan industri dan bahkan kawasan indistri yang tidak disertai dengan penyediaan hunian untuk pekerja industri juga menyebabkan kawasan pinggiran berkembang dengan pesat tanpa dibarengi dengan pembangunan/penyediaan infratruktur permukiman yang layak. Hal ini tentu akan menyebabkan munculnya masalah lingkungan akibat menumpuknya timbunan sampah, air limbah rumah tangga yang tidak terkelola dengan baik, berkurangnya ruang terbuka hijau dan sudah dapat dipastikan dampak ikutan berupa bau tidak sedap, banjir genangan, bahaya kebakaran, beragam penyakit pun akan menyusul;

Kawasan Permukiman Kumuh Tambak Lorok

Sumber: Dok. Pribadi, 2016

Tingginya harga lahan di pusat kota dan di lingkungan layak huni juga turut memberi sumbangan terhadap perkembangan kawasan pinggiran dengan cepat. Hal ini berarti jarak antara tempat kerja semakin jauh dan bangkitan lalulintas dari kawasan pinggiran ke pusat kota akan terus naik, sementara moda transportasi publik jauh dari kesan nyaman (secara kualitas dan kuantitas sangat jauh dari yang diharapkan masyarakat). Moda transportasi publik yang ada di Semarang saat ini hanya melayani jalur-jalur utama dan terputus dengan sumber bangkitan lalu lintas (perumahan dan kampung). Salah satu moda andalan transportasi publik BRT Trans Semarang belum punya ruang jalur tersendiri seperti di Jakarta. Moda tranport ini pun kadang tidak bisa tepat waktu karena jadwalnya sering berubah akibat kemacetan yang terjadi di titik tertentu. Sementara moda angkutan lainnya juga belum bisa diandalkan, karena tuntutan balik modal bahan bakar sering kali berhenti lama (ngetem) atau berputar arah sebelum titik akhir. Lemahnya kontrol kelayakan oprasi juga sering kali membuat moda tranport yang seharusnya tidak layak jalan masih beroprasi. Masyarakat perkotaan yang membutuhkan angkutan yang tepat waktu ke lokasi kerjapun akhirnya banyak yang berpindah ke kendatraan pribadi terutama roda dua. Jenis moda ini sangat gampang diperoleh secara kredit. Kondisi ini tentu akan menyebabkan beban lingkungan semakin besar, kemacetan dan mencemaran udara akan semakin parah dan kenyamanan kota semakin menurun.

Kondisi di atas tentu akan semakin parah jika kita (semua komponen pelaku pembangunan) di Semarang tidak berbenah. Semarang butuh adanya perbaikan dan strategi dalam pembangun kota. Semarang butuh keseimbangan dalam memanfaatkan ruang kotanya, tidak hanya dari sisi kepentingan ekonomi dan meningkatkan PAD. Penurunan kualitas kota dan lingkungan hanya akan menjadikan nilai properti, nilai lahan, nilai kenyamanan dan keamanan akan terus menurun. Hal ini tentu akan beralibat munculnya perpindahan kegiatan perkotaan dan menjadi mungkin suatu saat Semarang akan ditinggakan menjadi kota mati. Kepentingan lingkungan hidup, sosial-budaya, teknologi dan politik, juga perlu diperhatikan untuk Semarang yang lebih baik.

Catatan:

Dodid M, 2016, Menahan-Amblesan-Kota-Semarang, http://geomagz.geologi. esdm.go.id//

Hadi N, 2010, Analisis Sumberdaya Alam dan Lingkungan untuk Pembangunan Kota Semarang, Seminar : Menyongsong Peradaban Baru, Bagaimana Menata Kota Semarang ke Depan.

Robert, K, 2012, Penurunan-Tanah-di-Semarang-Karena-Proses-Konsolidasi

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_smg/2012/02/05/108645/

Posted in Kota | Leave a comment

Mengapa kumuh???

unduhan

Kumuh sangat berkaitan dengan kesejahteraan, gaya hidup, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dan aturan tata ruang. Orang eropa sangat sadar lingkungan dan taat aturan, walaupun mereka yang homeless hidup di tenda pada malam hari, paginya mereka sudah bersihkan. Di Indonesia, pertama, kebanyakan lingkungan kumuh itu berisi pendatang yang oreintasi ke kota hanya cari uang. Yang penting bagi mereka hanya tinggal sementara tidak kehujanan dan kepanasan (alias numpang tidur saja) karena rumah mereka di desa. hal ini jadi makin parah ketika pengendalian pemanfaatan ruang kita tidak jalan atau terlambat. Pada awal penguasaan lahan oleh pendatang tidak segera ditertibkan, dan bangunan yang awalnya tidak permanen jadi permanen, kegiatan penertiban atau pun relokasi jadi diplesetkan ke penggusuran, lebih parah lagi jika ada politisasi. Kedua masalah proses perkotaan kawasan pinggiran, yang pertumbuhan hunian nya berkembang lebih cepat dari pembangunan infrastruktur nya. Akibatnya hunian jadi tidak teratur arah hadapnya, jalan dan drainase tidak ada, ruang sisa bangunan tidak cukup untuk membangun infrastruktur, sampah tidak tertangani, air bersih belum tersedia secara cukup dan layak, tidak ada ruang terbuka hijau dan proteksi kebakaran. Budaya di desa juga masih dibawa, walau mereka sudah mulai bekerja di sektor tersier mereka masih pelihara ayam dan binatang ternak lainnya. Nah dari sini terlihat dari sisi ilmu perencanaan jadi bolong semua. Planologi itu tidak hanya perencanaan fisik. Dimensi planologi sangat luas dan menyangkut ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, teknologi dan politik. (Jamilla Kautsary)

Posted in Nongkrong | Leave a comment

Banyak Taman Kota Belum Berkarakter

3267_20045_jalan-imam-bonjol_nurchamim-3_rszSEMARANG – Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang sedang gencar dilakukan. Tetapi banyak RTH di Kota Semarang masih asal berdiri, tanpa menyediakan fasilitas standar minimal sesuai dengan pedoman penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan perkotaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 5 Tahun 2008. Sesuai permen tersebut seharusnya di setiap RTH terdapat fasilitas ramah anak untuk bermain, penyediaan toilet, fasilitas komunitas, hingga ketersediaan fasilitas untuk disabilitas.

”Misalnya Lapangan Simpang Lima adalah kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH) aktif. Karena ada aktivitas di dalamnya, baik sebagai fungsi untuk rekreasi, sosialisasi, dan tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Tetapi sejauh ini fasilitas yang diberikan belum memadai,” kata Pengamat Tata Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Jamillah Kautsary, kemarin.

Dikatakannya, banyak fasilitas RTH yang selama ini belum dipenuhi oleh Pemkot Semarang untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, mulai fasilitas bermain anak, fasilitas untuk komunitas hingga toilet yang layak. Sebagai RTH, kata dia, semestinya memenuhi standar minimal sesuai dengan permen tersebut.

”Namun pada kenyataannya Lapangan Simpang Lima masih sangat jauh dari pelayanan RTH kota. Di sana tidak ada ruang-ruang untuk komunitas, tempat bermain anak masih sangat minim, kemudian fasilitas toilet juga belum memadai,” ujarnya.

Keberadaan toilet, lanjut dia, sangat penting mengingat Simpang Lima saat ini menjadi persinggahan para wisatawan. ”Seharusnya toilet harus memadai, sehingga ketika ramai kunjungan seperti pada akhir pekan, masyarakat tidak kesulitan mencari fasilitas toilet,” katanya.

Dia berharap, Pemkot Semarang memikirkan kualitas terhadap program-program yang sedang dijalankan. Menurutnya, selayaknya Simpang Lima dibenahi dan fasilitasnya disesuaikan dengan standar minimum RTH kota. ”Sehingga fungsi Simpang Lima sebagai RTH kota tidak banyak yang hilang,” ujarnya.

Termasuk fasilitas penyeberangan jalan. Simpang Lima yang berlokasi di tengah kota dengan kondisi jalan sangat padat, selayaknya memiliki fasilitas penyeberangan. ”Penyeberangan tidak harus berupa jembatan. Tetapi bisa berupa rambu-rambu. Sehingga pengendara kendaran tidak ugal-ugalan,” katanya.

Dikatakan, hak-hak pejalan kaki harus diperhatikan sesuai undang-undang. Penataan kawasan Simpang Lima, sejauh ini belum menunjukkan sebagai ikon kota yang ramah lingkungan. Sebab, penataannya terkesan hanya memperbaiki, tanpa ada pembaharuan. ”Belum ada sesuatu yang bisa menjadikan Simpang Lima sebagai tempat yang wajib dikunjungi,” ujarnya.

Pihaknya menyarankan, pembangunan taman kota harus berkarakter. Disesuaikan dengan kebutuhaan dari masyarakat agar bisa memiliki efek positif untuk menuangkan ide-ide kreatif. ”Maka taman harus bisa mewadahi kepentingan masyarakat, seperti teknologi, seni, sosial termasuk kepentingan lingkungan. Jika pembangunan taman berkarakter, maka akan bisa menjadi karakter Kota Semarang. Kalau taman yang sekarang ini kan tidak ada karakternya,” katanya.

Dikatakan, taman seharusnya bisa berfungsi sebagai tempat menciptakan iklim mikro. Adanya taman, suhu panas berkurang. Termasuk menciptakan estetika kota. Tetapi yang terjadi, pembangunan taman belum sesuai dengan standar kebutuhan masyarakat. ”Simpang Lima seharusnya dibangun untuk jangka panjang,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono, mengatakan, sejauh ini taman-taman di Kota Semarang masih minim fasilitas. Banyak taman yang tidak dirawat dan dibiarkan mangkrak. ”Kami mendorong Pemkot Semarang terutama dinas terkait untuk segera melakukan pembenahan taman,” katanya.

Ia setuju, Simpang Lima saat ini masih banyak fasilitas yang harus dipenuhi sebagai taman masyarakat yang nyaman, aman, dan mendidik. ”Simpang Lima saat ini sudah tidak diperbolehkan untuk digunakan panggung konser. Fungsi sebagai ruang terbuka publik harus dikembalikan. Fasilitas harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. (amu/aro/ce1)

Sumber : http://radarsemarang.jawapos.com/read/2017/01/10/3267/banyak-taman-kota-belum-berkarakter/1

Posted in Nongkrong | Leave a comment